Pendidikan dan Kebangkitan Umat

Posted by muchammad.sayyidin.s on November 14, 2018
Ragam Lifestyle

Dengan banyak hadirnya institusi pendidikan atau yang biasa kita sebut dengan sekolah, serta bertambahnya sarjana dan lulusan atau pakar di dalam semua bidang, apakah hal itu merupakan tanda kebangkitan, atau hanya jalan menuju kebangkitan? Definisi yang terkenal dari sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum yang bertingkat. Sekolah saat ini dianggap sebagai lembaga yang melakukan transfer ilmu di waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan kurikulum yang baku.

Faktanya menunjukkan bahwa dalam suatu negara banyak terdapat sekolah dan lulusan  atau pakar di bidang tertentu tidak menjamin bangkitnya negara tersebut. Bahkan orang-orang yang berasal dari sekolah itu kurang bermanfaat dan tidak dapat menyelesaikan masalah serta membawa kebangkitan terhadap negara beserta umat dengan keilmuan yang diperoleh di sekolah.

Sebut saja India, jumlah di sana paling banyak, tetapi kurang terpenuhinya tingkat kemakmuran, di sana malah ada orang-orang termiskin dan termundur di dunia. Yang membuat miris adalah para lulusan tersebut hanya bisa berwacana dengan teori keilmuan mereka, yang tidak menghasilkan apa-apa (tidak bekerja menyelesaikan masalah di bidangnya masing-masing). Hal ini juga yang menyebabkan mereka terpaksa mencari alternatif pekerjaan di tempat lain.

Sehingga sekolah dan lulusannya tidak bisa dijadikan standar kebangkitan. Mengapa? Jawabnya karena di dalam sekolah hanya terjadi ta’lim (proses transfer ilmu saja), di mana orang menuntut ilmu hanya untuk pengetahuan dan sifatnya untuk akademis semata. Sekolah terikat dengan kurikulum yang statis, jadi memang tidak bisa menyesuaikan dengan kenyataan yang dihadapi di lapangan, wajar jika teori-teori keilmuan mereka mengendap dan tidak ada fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan.

Fakta lain dari sekolah adalah pengaruh sekolah hanya tampak secara individual. Ia mampu mencerdaskan seorang individu dengan ilmu-ilmu, namun parsial, mampu mempengaruhi perasaan individu, tetapi tidak mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu ia bersifat teoritis, tidak aplikatif.

Dengan demikian, apakah sekolah yang tidak mampu merangsang pemikiran seseorang dapat membangkitkan? Tentu tidak. Sedangkan, kebangkitan yang diinginkan bisa hadir dari kalangan terpelajar atau cendekiawan malah tidak dapat menuntaskan masalah-masalah umat.  Berarti ada sesuatu yang salah tentang konsep kebangkitan. Oleh sebab itu, butuh didudukkan kembali arti dari kebangkitan.

Merujuk Kamus Dewan Edisi Ketiga (2002:101). Kebangkitan dapat diterjemahkan sebagai kata bangun, kesadaran, serta pekerjaan yang membawa kemajuan.Ini bermakna bahwa kebangkitan adalah suatu proses pembangunan dan kesadaran tentang perkara yang perlu direformasikan yang mana melibatkan kegiatan-kegiatan yang membawa kemajuan kepada gaya hidup masyarakat. Ini adalah teori umumnya. Makna sebenarnya dari kebangkitan lebih dalam daripada itu.

Kebangkitan dalam bahasa arab disebut an-nahdhah, yaitu dikaitkan dengan kamajuan di berbagai bidang keilmuan, peningkatan produktivitas, pesatnya perkembangan industri, kecanggihan teknologi, dan banyaknya penciptaan alat-alat yang semakin memudahkan dan memakmurkan kehidupan.

Kebangkitan dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau keadaan yang meningkat ke arah peringkat yang lebih baik. Untuk mencapai tahap itu, bagi orang-orang yang ingin bangkit, maka mau tidak mau haruslah memecahkan permasalahan pokok kehidupan dengan pemecahan yang benar, yakni yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati hingga tidak ada keraguan di dalamnya.

Permasalahan pokok tersebut tertuang dalam tiga pertanyaan besar tentang kehidupan, yaitu, darimanakah manusia berasal, untuk apakah manusia hidup di dunia ini, dan akan kemanakah manusia setelah kehidupannya berakhir di dunia. Pertanyaan ini harus dipecahkan dengan benar. Karena itulah yang akan menjadi akidah seseorang, landasan berfikir seseorang, dan kepemimpinan berfikir seseorang, termasuk dalam menyelesaikan cabang masalah-masalah lainnya.

Dengan demikian, negara dan umat semestinya menyadari arti kebangkitan ini. Sehingga tidak serta merta menstandarkan kebangkitan dari banyaknya lulusan-lulusan dari sekolah. Karena, sekolah bukanlah proses pembinaan yang di dalamnya ada proses berfikir yang mana dapat menggerakkan pemikiran seseorang.

Sedangkan, yang disebutkan kebangkitan ialah sesuatu yang dapat mengganti jalan pemikirannya atau pemahamannya mengenai kehidupan.Namun urusan tersebut tidaklah diajarkan atau diterapkan di sekolah. Maka, sangat tergantung kepada pribadi gaya hidup masing-masing, jangan mengandalkan sekolah untuk menuju kebangkitan. Tugas dalam menyuruh seseorang untuk memakai akalnya (berfikir) hakikatnya ialah tugas suatu jama’ah, bukan sekolah.

Comments are closed.